jakarta suarabrita.com Menteri Desa Yandri mendorong desa menjadi “gula-gula” ekonomi yang menarik minat anak muda, agar tidak tergantung pada kerja di kota. “Sekarang ada MBG, perlu telur, sayur, lele, kemiri, kopi; desa sediakan semuanya. Dengan begitu, orang desa tidak tertarik ke kota,” ujarnya.
Yandri juga mengajak anak muda yang sudah di kota untuk kembali ke desa. Ia meyakinkan bahwa tinggal di desa bisa memberikan pendapatan yang mengalahkan orang kota. Beberapa warga desa bahkan meraih puluhan juta rupiah per bulan dari bisnis lokal.
Untuk menghapus stigma rendah terhadap petani, Yandri mendorong posisi CEO dan direktur di sektor pertanian desa. Salah satunya, bisnis petelur ayam berbasis teknologi canggih melibatkan 50 ribu petani, dengan pengelolaan AI untuk kontrol suhu kandang. Model ini memungkinkan petani yang tidak memiliki modal tetap memperoleh margin keuntungan tinggi.
Dengan strategi ini, desa menjadi pusat ekonomi kreatif dan mandiri, membuka peluang luas bagi generasi muda untuk berkarir dan berwirausaha tanpa harus pindah ke kota.(vina)
Editor : revina









