Yerusalem suarabrita.com Amerika Serikat (AS) meningkatkan kehadiran militernya di Israel dan mengevakuasi sejumlah diplomat dari Lebanon di tengah memanasnya ketegangan dengan Iran. Langkah ini terjadi hanya beberapa hari sebelum kedua negara melanjutkan pembicaraan nuklir yang dijadwalkan berlangsung di Eropa.
Lembaga penyiaran publik Israel, Kan, melaporkan pesawat tanker pengisian bahan bakar udara dan pesawat angkut berat C-17 Globemaster milik AS mendarat di Bandar Udara Ben Gurion dalam 24 jam terakhir. Bandara internasional utama Israel itu menjadi titik strategis masuknya tambahan aset militer Washington.
Foto-foto yang beredar memperlihatkan sejumlah pesawat militer terparkir di area bandara. Penguatan ini di sebut sebagai bagian dari kesiapan AS menghadapi berbagai kemungkinan, termasuk jika diplomasi dengan Teheran tidak membuahkan hasil.
AS Perkuat Militer, Semua Opsi Disebut Terbuka
Dalam beberapa pekan terakhir, AS juga menambah jet tempur, kapal induk, serta berbagai aset pendukung di kawasan Timur Tengah. Pejabat Washington menegaskan pemerintah tetap mengutamakan jalur diplomasi, namun tidak menutup opsi lain terkait sengketa program nuklir dan rudal Iran.
Sebaliknya, Iran memperingatkan akan memberikan respons tegas jika wilayah atau kepentingannya diserang, termasuk terhadap target AS maupun Israel. Situasi ini membuat kawasan kembali berada dalam sorotan dunia.
Evakuasi Diplomat AS dari Lebanon
Di saat bersamaan, Kedutaan Besar AS di Beirut mengevakuasi puluhan stafnya melalui Bandara Internasional Beirut. Media Lebanon, Lebanese Broadcasting Corporation International, menyebut langkah tersebut sebagai tindakan pencegahan untuk mengantisipasi potensi eskalasi regional.
Keputusan evakuasi ini mempertegas sinyal bahwa Washington bersiap menghadapi kemungkinan memburuknya situasi keamanan di Timur Tengah.
Jelang Putaran Lanjutan Pembicaraan Nuklir
Perkembangan terbaru ini terjadi setelah dua putaran pembicaraan nuklir tidak langsung antara AS dan Iran digelar bulan ini, masing-masing di Muscat pada 6 Februari dan di Jenewa pada 17 Februari.
Menteri Luar Negeri Oman, Sayyid Badr bin Hamad bin Hamood Albusaidi, menyatakan putaran berikutnya akan kembali di gelar di Jenewa pada 26 Februari. Pertemuan ini di nilai krusial untuk menentukan arah hubungan kedua negara ke depan.
Dengan pengerahan militer dan proses di plomasi yang berjalan bersamaan, dunia kini menanti apakah jalur perundingan mampu meredakan ketegangan, atau justru kawasan Timur Tengah kembali memasuki fase eskalasi baru. (tim)
Editor : vina









