suarabrita.com Sampai di mana dunia ini berjalan?
Ia berputar tanpa lelah, menua tanpa suara. Gedung-gedung menjulang, teknologi melesat, manusia berlomba mengejar angka dan nama. Namun, di balik gemerlapnya, dunia tetaplah fana—ia tak pernah berjanji untuk setia.
Hari ini kita ada. Kita berbicara, tertawa, merancang mimpi. Tetapi esok? Tidak ada satu pun yang mampu memastikan. Waktu adalah rahasia Allah, dan usia adalah titipan yang setiap detiknya berkurang, bukan bertambah.
Allah telah mengingatkan dalam Al-Qur’an bahwa kehidupan dunia hanyalah permainan dan senda gurau, sementara negeri akhirat adalah kehidupan yang sebenar-benarnya. Kita sering terpesona pada gemerlap yang sementara, lupa bahwa langkah kita sejatinya sedang menuju pulang.
Di tengah riuhnya ambisi, pertanyaannya bukan lagi “apa yang kita cari di dunia?”, melainkan “untuk apa kita hidup di dunia?”
Apakah untuk harta yang akan tertinggal?
Untuk pujian yang lekang oleh waktu?
Ataukah untuk amal yang kelak menjadi cahaya di alam kubur?
Dunia ini ibarat ladang. Hari ini kita menanam, esok kita menuai. Siapa yang menanam kebaikan, akan memetik ketenangan. Siapa yang menanam keikhlasan, akan memanen keberkahan. Dan siapa yang menanam kesombongan, akan menuai penyesalan.
Kita sering lupa, bahwa kematian bukan tentang usia tua atau muda. Ia bukan tentang sakit atau sehat. Ia adalah janji yang pasti datang, tanpa mengetuk pintu.
Maka selama napas masih berembus, mari luruskan niat.
Perbaiki shalat sebelum waktu tak lagi memberi kesempatan.
Lembutkan hati sebelum ia mengeras oleh dunia.
Perbanyak istighfar sebelum lisan membisu selamanya.
Dunia ini tidak salah. Ia hanya sementara.
Yang keliru adalah ketika kita menganggapnya segalanya.
Hari ini kita ada.
Besok, bisa jadi nama kita hanya tinggal doa.
Semoga langkah kita di dunia bukan sekadar berjalan, tetapi menuju ridha-Nya. (tim)
Editor : revina
Sumber Berita: Sumber: Olahan redaksi berdasarkan renungan Islami dan nilai-nilai dalam Al-Qur'an.









