suarabrita.com Bulan suci Ramadan kembali hadir membawa suasana tenang dan penuh makna. Di setiap rumah, sahur dan berbuka menjadi momen yang menumbuhkan kedekatan keluarga. Di tengah suasana itu, banyak anak mulai mengenal puasa sebagai pengalaman baru dalam hidup mereka.
Bagi anak, puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga. Puasa adalah proses belajar tentang kesabaran, disiplin, dan empati. Karena itu, orang tua perlu mengenalkan puasa dengan cara yang lembut dan menyenangkan.
Data Badan Pusat Statistik mencatat mayoritas penduduk Indonesia beragama Islam. Ramadan pun menjadi momentum nasional yang memengaruhi jutaan anak. Lingkungan keluarga dan sekolah ikut berperan membentuk pengalaman tersebut.
Pemerintah melalui Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak mendorong terwujudnya Ramadan Ramah Anak. Gerakan ini mengajak semua pihak menjadikan Ramadan sebagai ruang aman bagi tumbuh kembang anak.
Dalam ajaran Islam, anak yang belum baligh belum wajib berpuasa penuh. Orang tua dapat melatih anak secara bertahap, sesuai usia dan kemampuan. Pendekatan ini menjaga kesehatan anak sekaligus menanamkan kecintaan pada ibadah.
Dengan bimbingan penuh kasih, puasa akan tumbuh menjadi kebiasaan baik. Ramadan pun menjadi musim pendidikan hati. Anak belajar mencintai ibadah dengan bahagia, bukan karena tekanan, melainkan karena kesadaran.(tim)
Editor : vina









