Jakarta suarabrita.com Fenomena yang di kenal dengan sebutan “Pizza Pentagon” kembali menjadi sorotan publik setelah Amerika Serikat melancarkan serangan ke Iran pada akhir Februari lalu. Istilah ini merujuk pada dugaan lonjakan pesanan pizza di sejumlah gerai makanan cepat saji yang berada di sekitar markas besar Pentagon, yang di sebut-sebut terjadi menjelang operasi militer.
Di media sosial, sejumlah pengguna membagikan data dan tangkapan layar yang memperlihatkan peningkatan aktivitas pemesanan pada larut malam. Mereka berspekulasi bahwa lonjakan tersebut menjadi indikasi adanya rapat darurat atau aktivitas lembur intensif di lingkungan Pentagon sebelum serangan di lakukan.
Fenomena “Pizza Pentagon” bukanlah hal baru. Sejak dekade 1990-an, teori serupa kerap muncul setiap kali terjadi ketegangan geopolitik yang melibatkan Amerika Serikat. Saat pejabat dan staf pertahanan bekerja hingga larut malam, pesanan makanan dalam jumlah besar di nilai sebagai tanda adanya persiapan kebijakan penting, termasuk kemungkinan operasi militer.
Meski begitu, hingga kini tidak ada pernyataan resmi dari pihak Pentagon yang mengaitkan peningkatan pesanan pizza dengan keputusan atau pelaksanaan serangan militer. Para analis keamanan menilai teori tersebut lebih merupakan spekulasi publik yang berkembang di era digital, di mana pola aktivitas kecil dapat dengan cepat di tafsirkan sebagai sinyal strategis.
Serangan Amerika Serikat ke Iran sendiri di laporkan sebagai bagian dari respons terhadap meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah. Namun, detail operasional dan proses pengambilan keputusan di dalam Pentagon tetap menjadi ranah internal yang jarang di publikasikan secara rinci.
Fenomena ini menunjukkan bagaimana dinamika informasi di media sosial dapat membentuk narasi tersendiri, bahkan sebelum ada konfirmasi resmi dari otoritas terkait. (tim)
Editor : vina
Sumber Berita: Diolah dari pemberitaan detiknews dan berbagai laporan media internasional.









