suarabrita.com Popularitas Roblox meningkat pesat di kalangan anak, dengan lebih dari 80 juta pengguna aktif harian, 60% berusia di bawah 13 tahun. Platform ini memungkinkan anak membuat, memainkan, dan membagikan game sendiri, namun akses mudah berpotensi memicu kecanduan.
American Academy of Pediatrics (AAP) menyoroti sistem penghargaan di Roblox yang mendorong anak terus bermain, mengumpulkan item, dan berinteraksi sosial secara virtual. Tanpa batasan, pola ini bisa menimbulkan kecanduan.
Konten juga menjadi risiko. Meski sebagian besar ramah anak, Roblox tetap berpotensi memunculkan konten kekerasan ringan atau tema romantis, terutama bila sistem filter mengalami gangguan.
Fitur komunikasi multipemain menimbulkan ancaman keamanan. ParentsTogether menekankan, meski ada moderasi dan batasan usia, pelaku kejahatan daring tetap berupaya mengakses anak. Orangtua tidak bisa sepenuhnya mengandalkan sistem otomatis.
Masalah teknis seperti Roblox eror dapat memicu emosi anak, termasuk tantrum, yang menambah stres orangtua.
Panduan Orangtua:
Gunakan pengaturan privasi dan parental control untuk membatasi konten, mengatur waktu, dan memantau aktivitas.
Bangun komunikasi terbuka, diskusikan pengalaman bermain, dan tanggapi keluhan anak secara empatik.
Sesekali ikut bermain untuk memahami daya tarik Roblox dan mengajarkan etika digital.
Dengan pendampingan konsisten, Roblox tetap bisa menjadi sarana hiburan dan kreativitas yang aman, seimbang, dan terlindungi untuk anak.(tim)
Editor : revina









