suarabrita.com Krisis energi global kembali mengancam dunia setelah ketegangan di Timur Tengah meningkat. Serangan terhadap fasilitas energi di negara Teluk dan ancaman penutupan Selat Hormuz membuat pasar minyak dan gas melonjak tajam, memicu kekhawatiran terhadap ekonomi dunia.
Selat Hormuz, jalur vital perdagangan minyak dunia, menjadi sorotan utama. Sekitar sepertiga minyak mentah global dan hampir seperlima perdagangan gas alam cair (LNG) melintasi jalur ini setiap hari. Gangguan sekecil apa pun berpotensi mempengaruhi pasokan energi dan mendorong harga melonjak.
Sebelumnya, analis energi menilai risiko penutupan Selat Hormuz rendah karena langkah tersebut akan berdampak besar bagi Iran. Hubungan dagang dengan negara Teluk dan China sebagai pembeli utama minyaknya, serta risiko serangan balasan terhadap fasilitas domestik, membuat Iran berhati-hati.
Namun situasi berubah drastis setelah serangan militer Amerika Serikat dan Israel pada akhir Februari menewaskan pemimpin tertinggi Iran. Respons Iran semakin keras: kilang minyak terbesar di Arab Saudi, fasilitas pencairan gas di Qatar, kilang di Kuwait, dan zona industri minyak Fujairah di Uni Emirat Arab terkena dampak. Beberapa fasilitas berhenti beroperasi, sementara ladang gas di Israel dan Kurdistan juga terdampak.
Selain itu, arus pelayaran di Selat Hormuz hampir terhenti akibat serangan drone terhadap kapal. Perusahaan asuransi maritim menahan perlindungan bagi kapal yang melintas. Garda Revolusi Iran menyatakan selat ditutup dan memperingatkan kapal yang tetap berlayar berisiko menjadi target serangan.
Reaksi pasar global cepat terjadi. Harga minyak mentah Brent melonjak 14% sejak 27 Februari, mencapai US$83 per barel. Sementara harga gas di Eropa menembus €54 per MWh, naik lebih dari 70% di banding pekan sebelumnya. Lonjakan ini menimbulkan kekhawatiran terhadap inflasi global dan stabilitas ekonomi.
Para ekonom menilai, jika eskalasi berlanjut dan jalur energi tetap terganggu, negara importir minyak dan gas, terutama di Asia dan Eropa, akan menghadapi kenaikan biaya produksi, transportasi, dan kebutuhan rumah tangga. Sektor industri dan transportasi pun berpotensi terdampak signifikan.
Meski ketegangan tinggi, peluang di plomasi masih ada. Dunia menanti langkah-langkah penyelesaian agar jalur Selat Hormuz tetap aman, harga energi stabil, dan ekonomi global tidak terguncang lebih parah.(tim)
Editor : vina
Sumber Berita: CNBC Indonesia









