Ketegangan Iran–Israel–AS Picu Lonjakan Harga Minyak, Ekonomi

Gangguan pasokan energi dari Timur Tengah mendorong krisis baru yang berdampak luas hingga ke negara berkembang.

Avatar photo

- Jurnalis

Minggu, 26 April 2026 - 14:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

suarabrita.com Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali memanas, melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat. Konflik yang terus bereskalasi ini tidak hanya berdampak pada stabilitas kawasan, tetapi juga mengguncang pasar energi global.

Sejumlah laporan terbaru menunjukkan bahwa konflik tersebut telah mengganggu jalur distribusi minyak dunia, khususnya di Selat Hormuz—jalur vital yang dilalui sekitar 20% pasokan minyak global. Akibatnya, harga minyak mentah dunia melonjak signifikan dalam beberapa pekan terakhir.

Kenaikan harga ini dipicu oleh terganggunya ekspor minyak dari kawasan Timur Tengah. Bahkan, analis energi mencatat lonjakan harga minyak mencapai lebih dari 20% sejak konflik memanas, menandai salah satu guncangan pasokan terbesar dalam beberapa dekade terakhir.

Baca Juga :  Prabowo-Trump Teken Kesepakatan Dagang

Dampaknya tidak hanya dirasakan di sektor energi. Gejolak ini mulai merembet ke sektor ekonomi global, termasuk meningkatnya biaya transportasi, logistik, hingga harga pangan. Para ahli memperingatkan bahwa konflik ini berpotensi memicu perlambatan ekonomi dunia jika tidak segera mereda.

Di Indonesia, dampak serupa mulai diantisipasi. Kenaikan harga minyak dunia diperkirakan akan meningkatkan biaya distribusi dan produksi, terutama di sektor pangan. Hal ini berpotensi mendorong inflasi dan menekan daya beli masyarakat.

Selain itu, ketidakpastian geopolitik juga memicu volatilitas pasar keuangan global. Investor cenderung menghindari risiko, sehingga pasar saham mengalami tekanan, sementara sektor energi justru mengalami kenaikan.

Baca Juga :  Komisi A DPRD Surabaya Telusuri Hilangnya Rumah Radio BungTomo

Para analis menilai, jika konflik terus berlanjut atau bahkan meluas, harga minyak dunia bisa menembus level yang lebih tinggi dan memperparah krisis energi global. Dalam skenario terburuk, harga minyak bahkan diperkirakan dapat melampaui 100 hingga 150 dolar AS per barel.

Situasi ini menjadi pengingat bahwa stabilitas Timur Tengah masih menjadi faktor kunci dalam menjaga keseimbangan ekonomi dunia. Tanpa adanya deeskalasi dalam waktudekat, dampak krisis energi berpotensi semakin luas dan berkepanjangan(tim)

Editor : VINA

Berita Terkait

Konflik Timur Tengah Memanas, Harga BBM Indonesia Terancam
Iran Klaim Menang atas AS, Dunia Waspada Ketegangan Timur
Harga Minyak Dunia Tembus 100 Dolar, Dampak Konflik Timur Tengah
Krisis Timur Tengah 2026: Warga Sipil Terjebak di Tengah Konflik”
8 Maret, Dunia Rayakan Hari Perempuan Internasional
Formula 1 2026 Resmi Dimulai Lewat GP Australia di Melbourne
Puluhan Awak Tewas, Kapal Iran IRIS Dena Hancur di Samudra
Serangan Iran Hantam Militer AS, Jet Tempur & Radar Canggih
Berita ini 19 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 8 Mei 2026 - 16:30 WIB

Konflik Timur Tengah Memanas, Harga BBM Indonesia Terancam

Minggu, 26 April 2026 - 14:00 WIB

Ketegangan Iran–Israel–AS Picu Lonjakan Harga Minyak, Ekonomi

Minggu, 12 April 2026 - 12:21 WIB

Iran Klaim Menang atas AS, Dunia Waspada Ketegangan Timur

Selasa, 10 Maret 2026 - 13:00 WIB

Harga Minyak Dunia Tembus 100 Dolar, Dampak Konflik Timur Tengah

Minggu, 8 Maret 2026 - 18:00 WIB

Krisis Timur Tengah 2026: Warga Sipil Terjebak di Tengah Konflik”

Berita Terbaru