Kairo suarabrita.com Menteri Luar Negeri Iran, Seyed Abbas Araghchi, terbang ke Jenewa Minggu (15/2) untuk putaran kedua pembicaraan nuklir dengan Amerika Serikat. Pertemuan itu memperlihatkan perbedaan tajam terkait kesepakatan yang diinginkan kedua pihak.
Araghchi memimpin delegasi diplomatik khusus. Dia akan bertemu Menlu Swiss Ignazio Cassis, Menlu Oman Sayyid Badr bin Hamad Al Busaidi, dan Direktur Jenderal IAEA Rafael Grossi. Dari pihak AS, utusan khusus Presiden Donald Trump, Steve Witkoff, memimpin delegasi Washington.
Pada 6 Februari lalu, kedua pihak memulai putaran pertama di Muscat, Oman. Iran dan AS menyebut pertemuan itu sebagai awal yang baik, tetapi kedua pihak gagal mencapai terobosan.
Menjelang pertemuan Jenewa, pejabat Iran menegaskan keterbukaan bersyarat dan tetap mempertahankan garis merah di plomatik.
Wakil Menlu Iran, Majid Takht-Ravanchi, menyatakan Iran bersedia membahas pengayaan uranium 60 persen. Dia menekankan bahwa Iran menolak menghentikan pengayaan total dan tidak menegosiasikan program rudal. Sementara itu, Hamid Ghanbari, Wakil Menlu untuk diplomasi ekonomi, menyatakan diskusi Muscat membuka peluang investasi energi, pertambangan, dan pembelian pesawat AS.
Teheran dan Washington tetap menghadapi diplomasi yang rapuh, tetapi setiap langkah membuka peluang kesepakatan baru.(tim)
Editor : vina









