suarabrita.com Tasmi’ Al-Qur’an adalah cermin kejujuran hafalan. Ayat yang terasa utuh di dalam hati akan di uji kekuatannya ketika dilantunkan tanpa mushaf. Di hadapan pendengar, hafalan bukan sekadar ingatan, tetapi amanah yang harus di jaga dengan ketulusan.
Dalam proses tasmi’, penghafal belajar menata mental dan memperbaiki bacaan. Setiap ayat yang di bacakan menjadi ruang evaluasi, sekaligus latihan kesiapan agar hafalan tidak rapuh oleh lupa, tidak goyah oleh ragu. Tasmi’ menjadikan hafalan hidup, terjaga, dan siap di panggil kapan pun di butuhkan.
Pembina tahfidz di sebuah pesantren di Solo, Ustadzah Laila, menyampaikan bahwa tasmi’ membentuk kestabilan hafalan dan kedewasaan sikap. Penghafal yang rutin melakukan tasmi’ cenderung lebih tenang, bertanggung jawab, serta terbiasa menerima koreksi dengan lapang dada.
Metode tasmi’ dapat di sesuaikan dengan kemampuan. Tasmi’ per halaman melatih ketelitian, per lembar menguatkan kesinambungan ayat, per juz menguji daya tahan hafalan, dan tasmi’ acak mengasah kesiapan ingatan secara menyeluruh.
Lebih dari sekadar teknik, tasmi’ menuntut adab. Niat ibadah, kejujuran pada kemampuan diri, dan kesungguhan memperbaiki kesalahan menjadi kunci keberkahan hafalan. Di sanalah ayat-ayat tidak hanya di hafal, tetapi ditanam dalam kesadaran.
Sebab hafalan Al-Qur’an bukan untuk sesaat. Ia di jaga sepanjang hayat. Dan tasmi’ adalah jalan sunyi yang menguatkan kejujuran, menenangkan hati, serta meneguhkan amanah suci para penjaga Kalam Ilahi.
Penulis : v
Editor : vina
Sumber Berita: go news.id









