suarabrita.com Kerja keras sudah di lakukan. Waktu dan tenaga di curahkan sepenuhnya untuk usaha dan pekerjaan. Namun, sebagian orang tetap merasa rezekinya berjalan di tempat.
Dalam pandangan Islam, kelapangan rezeki tidak hanya di ukur dari jumlah uang yang masuk. Ada unsur lain yang sangat penting, yaitu keberkahan (barakah). Harta yang berkah di yakini membawa ketenangan, rasa cukup, dan manfaat yang luas.
Sejumlah literatur keuangan syariah, termasuk yang dikutip dari Islamic Finance Guru, menyebutkan bahwa ada kebiasaan tertentu yang dapat mengurangi keberkahan harta. Akibatnya, rezeki bisa terasa sempit meski secara nominal terlihat cukup.
Berikut beberapa kebiasaan yang dalam ajaran Islam dinilai dapat memengaruhi keberkahan rezeki:
1. Mengonsumsi Harta yang Tidak Halal atau Syubhat
Islam menekankan pentingnya mencari penghasilan yang halal dan bersih. Sumber pendapatan yang berasal dari praktik terlarang atau meragukan (syubhat) di yakini dapat menghilangkan keberkahan.
Dalam sejumlah hadis, Muhammad SAW menjelaskan bahwa doa seseorang bisa sulit di kabulkan apabila makanan, minuman, dan pakaiannya berasal dari yang tidak halal.
Pesan utamanya jelas: memperbaiki sumber penghasilan adalah langkah awal menjaga keberkahan hidup.
2. Mengabaikan Kewajiban Zakat
Zakat bukan sekadar kewajiban sosial, tetapi juga sarana menyucikan harta. Secara bahasa, zakat berarti membersihkan dan menumbuhkan.
Dalam ajaran Islam disebutkan bahwa harta yang tidak di zakati berpotensi membawa konsekuensi di akhirat. Karena itu, setiap Muslim yang telah memenuhi syarat wajib menghitung dan menunaikan zakat dengan benar.
Menunaikan zakat bukan mengurangi harta, melainkan diyakini justru menjaga dan menumbuhkannya dalam keberkahan.
3. Terlibat Praktik Riba
Riba atau bunga dalam transaksi pinjam-meminjam secara tegas di larang dalam Islam. Larangan ini di sebutkan dalam Al-Qur’an, salah satunya dalam Surah Al-Baqarah ayat 275 yang berisi peringatan keras bagi pelaku riba.
Karena itu, umat Islam dianjurkan meninjau kembali transaksi keuangan yang di jalankan agar terhindar dari unsur riba. Jika terlanjur menerima bunga, sebagian ulama menyarankan untuk menyalurkannya ke kegiatan sosial tanpa niat sedekah sebagai bentuk pembersihan harta.
4. Boros dan Hidup Berlebihan
Islam menganjurkan hidup secara moderat. Gaya hidup konsumtif, pengeluaran tanpa perencanaan, serta sikap berlebihan dapat mengikis keberkahan.
Menikmati hasil kerja bukan hal yang dilarang. Namun, pengelolaan keuangan yang sehat, pengendalian diri, dan perencanaan yang baik menjadi kunci agar harta tetap membawa manfaat.
5. Tidak Menunaikan Kewajiban Keuangan
Menunda pembayaran utang tanpa alasan yang jelas, mengingkari janji finansial, atau tidak jujur dalam transaksi juga di sebut dapat menghilangkan keberkahan.
Dalam hadis disebutkan bahwa transaksi akan di berkahi jika kedua belah pihak bersikap jujur dan terbuka. Sebaliknya, jika ada kebohongan atau hal yang di sembunyikan, keberkahan bisa hilang.
Integritas dalam urusan uang menjadi bagian penting dalam menjaga barakah.
Rezeki Bukan Sekadar Angka
Islam mengajarkan bahwa pintu taubat selalu terbuka. Memohon ampun, memperbaiki kesalahan, dan membenahi praktik keuangan dapat menjadi jalan untuk mengembalikan keberkahan.
Pada akhirnya, rezeki bukan semata soal angka di rekening. Rezeki juga mencakup ketenangan hati, rasa cukup, serta manfaat yang di rasakan dari harta yang di miliki.
Kerja keras tetap penting. Namun, dalam perspektif Islam, keberkahan adalah kunci agar rezeki terasa lapang dan menenangkan.(tim)
Editor : vina









