suarabrita.com Langit malam di Sukabumi terasa lebih kelam dari biasanya. Seorang bocah lelaki berusia 12 tahun berinisial N mengembuskan napas terakhirnya pada Kamis malam, 19 Februari 2026. Kepergiannya meninggalkan ruang kosong yang tak mudah terisi—bukan hanya bagi keluarga, tetapi juga bagi siapa pun yang mendengar kisahnya.
Sebelum berpulang, N sempat berjuang melawan kondisi yang terus memburuk. Ia dilarikan ke fasilitas kesehatan terdekat dengan harapan masih ada waktu yang tersisa. Namun takdir berkata lain. Upaya penyelamatan tak mampu membendung jalan pulang yang telah digariskan untuknya.
Di balik kabar duka itu, terselip cerita yang membuat dada sesak. Beredar dugaan bahwa N mengalami perlakuan tidak semestinya di lingkungan rumahnya sendiri. Aparat penegak hukum kini menangani kasus tersebut dan telah mengamankan seorang perempuan berinisial S untuk menjalani proses hukum lebih lanjut. Semua pihak tetap menjunjung asas praduga tak bersalah sembari menunggu hasil penyelidikan resmi.
Kepergian N menjadi gema sunyi yang mengetuk hati banyak orang. Seharusnya rumah adalah tempat paling aman bagi seorang anak—tempat ia tumbuh, tertawa, dan belajar tentang cinta. Namun ketika ruang itu justru menyisakan luka, dunia terasa begitu sempit bagi jiwa kecil yang belum sempat mengenal luasnya harapan.
Kisah ini bukan sekadar kabar duka. Ia adalah pengingat bahwa setiap anak berhak atas pelukan yang tulus, kata-kata yang lembut, dan perlindungan tanpa syarat. Kekerasan dalam bentuk apa pun tak pernah memiliki ruang pembenaran.
Semoga proses hukum berjalan dengan adil dan terang. Dan semoga tak ada lagi anak yang harus berpamitan terlalu cepat, hanya karena dunia di sekitarnya gagal menjadi tempat yang aman baginya.(tm)
Editor : vina









