Umbi sederhana yang sering dianggap makanan kampung ini ternyata menyimpan manfaat besar bagi kesehatan dan ekonomi masyarakat.
suarabrita.com Singkong atau Manihot esculenta selama ini di kenal sebagai pangan alternatif pengganti nasi. Namun di balik tampilannya yang sederhana, singkong memiliki kandungan gizi yang tidak bisa di anggap remeh.
Di tengah kenaikan harga sejumlah bahan pokok, singkong kembali di lirik masyarakat sebagai sumber karbohidrat yang lebih terjangkau. Tanaman ini mudah tumbuh di berbagai wilayah Indonesia dan tidak memerlukan perawatan rumit, sehingga banyak di budidayakan oleh petani lokal.
Secara kandungan gizi, singkong kaya akan karbohidrat yang menjadi sumber energi utama tubuh. Tak hanya itu, singkong juga mengandung serat yang baik untuk menjaga kesehatan pencernaan. Konsumsi singkong yang di olah dengan cara direbus atau di kukus dapat membantu memberikan rasa kenyang lebih lama.
Selain karbohidrat dan serat, singkong mengandung vitamin C yang berperan penting dalam menjaga daya tahan tubuh. Mineral seperti kalium dan magnesium juga terdapat dalam umbi ini, yang bermanfaat untuk menjaga keseimbangan cairan serta kesehatan otot dan saraf.
Tak hanya dari sisi kesehatan, singkong juga memiliki nilai ekonomi tinggi. Umbi ini dapat di olah menjadi berbagai produk seperti keripik, tape, getuk, hingga tepung tapioka yang banyak di gunakan dalam industri makanan. Bahkan, singkong juga di manfaatkan sebagai bahan baku bioetanol.
Meski begitu, masyarakat perlu memperhatikan cara pengolahannya. Singkong mentah mengandung senyawa alami yang dapat berbahaya jika tidak
di masak dengan benar. Oleh sebab itu, proses perebusan atau pengukusan hingga matang sangat di anjurkan sebelum di konsumsi.
Dengan segudang manfaat tersebut, singkong membuktikan diri sebagai pangan lokal yang tidak hanya menyehatkan, tetapi juga berpotensi memperkuat ketahanan pangan nasional.(tim)
Editor : vina
Sumber Berita: Kementerian Pertanian Republik Indonesia, data pangan dan literatur gizi kesehatan.









