suarabrita.com Panglima Korps Marinir (Pangkormar) Letjen TNI (Mar) Endi Supardi melakukan evaluasi menyeluruh terhadap prosedur pemilihan lokasi latihan setelah insiden tanah longsor di Cisarua, Bandung Barat, yang menewaskan 23 prajurit TNI AL dari Korps Marinir.
Endi menyampaikan evaluasi ini bertujuan untuk meningkatkan standar keselamatan prajurit saat menjalani latihan di lapangan. Ia menegaskan, setiap lokasi latihan ke depan akan di kaji lebih mendalam, terutama dari sisi kondisi alam dan cuaca.
Ini sedang dalam evaluasi dan akan kita dalami lagi. Kami juga berkoordinasi dengan pimpinan. Peristiwa ini merupakan faktor alam,” ujar Endi saat jumpa pers di Markas Korps Marinir, Jakarta Pusat.
Sebelum latihan dilaksanakan, tim telah melakukan orientasi medan untuk memastikan jalur yang di gunakan prajurit dalam kondisi aman. Namun, saat kegiatan berlangsung, curah hujan di wilayah Cisarua cukup tinggi sehingga membuat tanah di perbukitan menjadi gembur dan mudah longsor.
Selain faktor hujan, kondisi hutan yang mulai berkurang pepohonannya di duga ikut memperparah pergerakan tanah. Longsor terjadi secara tiba-tiba saat para prajurit sedang menjalani latihan.
Sebanyak 23 prajurit TNI AL gugur dalam peristiwa tersebut pada 24 Januari. Insiden ini menjadi perhatian serius pimpinan Korps Marinir untuk memperketat prosedur penentuan lokasi latihan.
Ke depan, Korps Marinir akan mempertimbangkan faktor cuaca ekstrem, kondisi tanah, serta aspek lingkungan secara lebih detail sebelum menetapkan lokasi latihan. Langkah ini dilakukan untuk meminimalkan risiko dan menjaga keselamatan seluruh prajurit.(tim)
Editor : vina
Sumber Berita: antara news









